Rabu, 15 Juli 2009

menagih janji politik


Demokrasi liberal selalu menghasilkan citra dan harapan yang luar biasa bagi pemeluknya. Semua kaum demokrat yang beriman pada demokrasi liberal akan mengalami candu kebebasan hidup. Padahal, romantisme kebebasan dapat mengakibatkan kebiasaan berfantasi yang akan menjadikannya ”tidak mampu” untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan nyata. Inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Setiap caleg dan capres/cawapres sedang berlomba-lomba memoles wajahnya melalui iklan-iklan politik agar mendapat simpati publik.

Jika mencermati janji dalam iklan-iklan itu seakan-akan kita melihat bahwa mereka (yang beriklan) lebih utama dari bekerja. Mereka yang belum bekerja, seakan-akan sudah bekerja. Mereka yang tak punya visi, seakan-akan punya gagasan besar yang dapat diimplementasikan. Mereka yang berwajah bopeng dan tak sempurna, akan terlihat smart dan menggiurkan bila dilihat dari iklannya.

Memang, obral janji politik merupakan bagian dari kampanye politik. Karena itu, janji-janji itu biasanya dikemas sedemikian rupa sehingga para konstituen tak menyadari kalau janji yang disuguhkannya bukan pernyataan yang tulus. Gejala politik ini bisa kita tengok dengan menggunakan paradigma dramaturgi Erving Goffman. Teori ervin Goffman tentang dramaturgi yang berasal dari buku The Presentation of Self in Everyday Life (1959) melihat banyak kesamaan antara pementasan teater dengan berbagai jenis peran yang kita mainkan dalam interaksi dan tindakan seharian. Seperti aktor di panggung, aktor politik membawakan peran, mengasumsikan karakter, dan bermain melalui adegan-adegan ketika terlibat dalam interaksi dengan orang lain.

Narsisisme politik yang demikian, tulis Yasraf Amir Piliang (2009), merupakan cermin ”artifisialisme politik” melalui konstruksi citra diri yang sebaik, secerdas, seintelek, sesempurna dan seideal mungkin tanpa menghiraukan pandangan umum terhadap realitas diri yang sebenarnya. Melalui politik pertandaan (politics of signification), berbagai tanda palsu tentang tokoh, figur, dan partai diciptakan untuk mengelabuhi persepsi dan pandangan publik. Bedah plastik yang dilakukan calon anggota legislatif (caleg) untuk mengubah penampilannya adalah bukti nyata yang menggelikan.

Janji yang terkoyak


Saat ini, politik di Indonesia adalah ”politik janji-janji,” bukan lagi politik perjuangan seperti di zaman para founding father’s Republik ini. Padahal, mengutip Yudi Latif (2008), janji-janji etis perubahan ekonomi rakyat selalu kandas di tengah jalan negara lebih sibuk mengurus ”ketupat politik” daripada pelembagaan ekonomi rakyat. Padahal idealnya, menurut M. Dawam Raharjo (2009), pembangunan politik dan pembangunan ekonomi dapat berjalan bersama-sama, seiring sejalan.

Mari sejenak menengok sejarah. Era pemerintahan Orde Lama sukses mengumandangkan jargon-jargon pembangunan politik dan pembentukan karakter bangsa. Sayangnya, Presiden Soekarno kurang memerhatikan sisi ekonomi dan dengan itu berakhirlah kekuasaannya. Pemerintahan Orde Baru sempat menorehkan kisah sukses dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Bahkan, Indonesia mendapat julukan Macan Asia dalam perekonomian. Epos ini ternyata hanyalah fatamorgana belaka. Kisah sukses pembangunan berakhir dengan pahit, karena kekacauan yang ditimbulkan bukan hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga politik, sosial, bahkan kebudayaan.

Hadir kemudian era Reformasi dengan segudang harapan perbaikan ekonomi rakyat. Sayangnya, lebih dari 10 tahun Reformasi bergulir, wacana kesejahteraan rakyat tenggelam oleh ambisi politik berlebihan. Padahal, Davil Hill (1987) telah mengingatkan bahwa bahwa ketika suatu negara lebih berambisi menata politik maka harus disadari bahwa ”politik” akan selalu menemukan logikanya sendiri. Politik sebagai panglima akan menyeret secara deras membentuk pusaran sentrifugal dengan memakan waktu, tenaga dan pikiran yang terkadang menenggelamkan cita-cita kesejahteraan rakyat.

Kini, kita sedang berbondong menuju Pemilu 2009. Janji-janji perubahan ekonomi meluncur dari ribuan calon anggota legislatif dari berbagai partai. Tak ketinggalan, para calon presiden dan calon wakil presiden pun jauh-jauh hari menawarkan janji perubahan. Akankah janji-janji dapat terealisasi atau hanya menjadi angin surga penawar duka lara?

Jati diri bangsa

Kesejahteraan rakyat tidak dapat terwujud hanya dengan janji politik. Kehendak itu dapat tercapai apabila ada niat, kesadaran dan kerja keras untuk membongkar dan menata ulang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Inilah sesungguhnya pesan reformasi yang masih jauh panggang dari api. Yakni merancang bangun gagasan (wacana), aktor (agensi) dan cita-cita (mimpi) bangsa. Sebab, saat ini gagasan, aktor dan mimpi yang berputar-putar di atas kanvas pembangunan kita bukan lagi representasi keIndonesiaan kita. Kita telah kehilangan ”alam pikiran keindonesian.”

Dalam hal ekonomi misalnya, keIndonesiaan kita telah dicabik-cabik oleh wacana liberalisme dengan agen-agen economic hitman ─ kata John Perkins ─ yang bertebaran di mana-mana. Mimpi orang Indonesia pun telah dijejali alam pikir liberalisme seperti pertumbuhan, konsumerisme, logika pasar, individualisme dan seterusnya. Jika tidak direm, kita akan menjadi koeli di negeri sendiri.

Oleh karena itu, kita memerlukan terobosan baru. Sebuah strategi komprehensif yang dijiwai nasionalisme yang tinggi untuk menghentikan berkembangbiaknya virus-virus neoliberalisme dan etatisme dalam perekonomian kita. Sudah saatnya kita kembali berpijak pada gagasan Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Syahrir dan Yamin yang mewariskan kemandirian. Dari Tan Malaka kita mewarisi semangat revolusi (dan anti diplomasi) untuk mengusir penjajah. Dari Soekarno kita mewarisi trisakti: berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, berkepribadian secara budaya. Dari Hatta kita mewarisi ekonomi kerakyatan [koperasi] yang menjadi sintesa antara ekonomi komunis-kapitalis. Dari Syahrir kita mewarisi keadilan sosial yang menjadi landasan akhir manusia Pancasila sehingga bersama untuk bergotongroyong dan bergotongroyong untuk bersama. Dan, dari Yamin kita mewarisi negara hukum [law governed state] yang menyamakan dan membagi keadilan untuk semua. Refleksi dari nilai-nilai itulah yang melandasi Pancasila dan UUD45.

Pada akhirnya, tak ada pilihan lagi bagi kita semua untuk kembali pada jati diri keIndonesiaan dengan menterjemahkan gagasan ilmu ekonomi-politik ke asal mula dilecutkan di bumi Indonesia. Hal ini dapat terwujud bukan hanya dengan janji politik, tapi dengan bukti niat tulus dan kerja keras. Semoga. (*)

aswaja

Aswaja Sebagai Manhajul Fikr

Sejarah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah

Sebenarnya sistem pemahaman Islam menurut Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah hanya merupakan kelangsungan desain yang dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur-rasyidin. Namun sistem ini kemudian menonjol setelah lahirnya madzhab Mu’tazilah pada abad ke II H.

Seorang Ulama’ besar bernama Al-Imam Al-Bashry dari golongan At-Tabi’in di Bashrah mempunyai sebuah majlis ta’lim, tempat mengembangkan dan memancarkan ilmu Islam. Beliau wafat tahun 110 H. Di antara murid beliau, bernama Washil bin Atha’. Ia adalah salah seorang murid yang pandai dan fasih dalam bahasa Arab.

Pada suatu ketika timbul masalah antara guru dan murid, tentang seorang mu’min yang melakukan dosa besar. Pertanyaan yang diajukannya, apakah dia masih tetap mu’min atau tidak? Jawaban Al-Imam Hasan Al-Bashry, “Dia tetap mu’min selama ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi dia fasik dengan perbuatan maksiatnya.” Keterangan ini berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits karena Al-Imam Hasan Al-Bashry mempergunakan dalil akal tetapi lebih mengutamakan dalil Qur’an dan Hadits.

Dalil yang dimaksud, sebagai berikut; pertama, dalam surat An-Nisa’: 48;
اِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُاَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُمَادُوْنَ ذلِكَ ِلمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِافْتَرَى اِثْمًاعَظِيْمًا النساء : 48

“S
esungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa seseorang yang berbuat syirik, tetapi Allah mengampuni dosa selian itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang mempersekutukan Tuhan ia telah membuat dosa yang sangat besar.”

Kedua, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ اَبِى ذَرٍ رَضِىَاللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتِانِى اتٍ مِنْ رَبىِ فَأَخْبَرَنِى اَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ اُمَّتِى لاَيُشْرِكُ بِاللهِ دَخَلَ اْلجَنَّةَ. قُلْتُ: وَاِنْ زَنىَ وَاِنْ شَرَقَ. قَالَ وَاِنْ زَنىَ وَاِنْ سَرَقَ رواه البخارى ومسل

“Dari shahabat Abu Dzarrin berkata; Rasulullah SAW bersabda: Datang kepadaku pesuruh Allah menyampaikan kepadamu. Barang siapa yang mati dari umatku sedang ia tidak mempersekutukan Allah maka ia akan m
asuk surga, lalu saya (Abu Dzarrin) berkata; walaupun ia pernah berzina dan mencuri ? berkata (Rasul) : meskipun ia telah berzina dan mencuri.” (Diriwayatkan Bukhari dan Muslim).
فَيَقُوْلُ وَعِزَّتِى وَجَللاَ لِى وَكِبْرِيَانِى وَعَظَمَتِى لأَُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ. رواه البخارى

“Allah berfirman: Demi kegagahanku dan kebesaranku dan demi ketinggian serta keagunganku, benar akan aku keluarkan dari neraka orang yang mengucapkan; Tiada Tuhan selain Allah.”

Tetapi, jawaban guruny
a tersebut, ditanggapi berbeda oleh muridnya, Washil bin Atha’. Menurut Washil, orang mu’min yang melakukan dosa besar itu sudah bukan mu’min lagi. Sebab menurut pandangannya, “bagaimana mungkin, seorang mu’min melakukan dosa besar? Jika melakukan dosa besar, berarti iman yang ada padanya itu iman dusta.”

Kemudian, dalam perkembangan berikutnya, sang murid tersebut dikucilkan oleh gurunya. Hingga ke pojok masjid dan dipisah dari jama’ahnya. Karena peristiwa demikian itu Washil disebut mu’tazilah, yakni orang yang diasingkan. Adapun beberapa teman yang bergabung bersama Washil bin Atha’, antara lain bernama Amr bin Ubaid.

Selanjutnya, mereka memproklamirkan kelompoknya dengan sebutan Mu’tazilah. Kelompok ini, ternyata dalam cara berfikirnya, juga dipengaruhi oleh ilmu dan falsafat Yunani. Sehingga, terkadang mereka terlalu berani menafsirkan Al-Qur’an sejalan dengan akalnya. Kelompok semacam ini, dalam sejarahnya terpecah menjadi golongan-golongan yang tidak terhitung karena tiap-tiap mereka mempunyai pandangan sendiri-sendiri. Bahkan, diantara mereka ada yang terlalu ekstrim, berani menolak Al-Qur’an dan Assunnah, bila bertentangan dengan pertimabangan akalnya.

Semenjak itulah maka para ulama’ yang mengutamakan dalil al-Qur’an dan Hadits namun tetap menghargai akal pikiran mulai memasyarakatkan cara dan sistem mereka di dalam memahami agama. Kelompok ini kemudian disebut kelompok Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah. Sebenarnya pola pemikiran model terakhir ini hanya merupakan kelangsungan dari sistem pemahaman agama yang telah berlaku semenjak Rasulullah SAW dan para shahabatnya.

Ahlu Sunnah wa al-Jamaah Sebagai Manhaj al-Fikr atau Mazhab?

Berfikir jernih, luwes dan kreatif tanpa tedeng aling-aling adalah sebuah cita-cita luhur intelektual muda NU yang menyerap banyak literatur baru dalam hidupnya. Sebuah usaha yang mendapat kecaman hebat dari para kyai berkaitan dengan tradisi lama yang dibangun.

Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah adalah satu dari banyak objek pemikiran yang ingin dilacak kebenarannya oleh intelektual muda tersebut. Benarkah pemahaman Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah kita saat ini? Adakah ia sebuah tradisi yang tak bisa diberantas (Aqidah) atau hanyalah sebuah pemikiran yang debatable?

Apapun ia, tentunya menjadi sebuah hal yang unik dan menarik untuk dibicarakan. Betapa tidak? Ketika para intelektual muda NU bergeliat mencari makna kebenaran Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah yang dikultuskan dan menjadi unthoughtable para kiai justru akhirnya merasa terancam eksistensinya. Ada apa dibalik semua ini? Said Aqil Siradj, seorang pemikir muda NU yang banyak menyoroti tentang hal ini dan akhirnya mendapatkan nasib yang sama dengan sesama intelektualis mendasarkan bahwa hapuslah asumsi awal yang menyatakan ini sebagai madzhab pokok.

Dalam beberapa runutan pemikiran berikutnya, ia banyak menjelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah lahir dengan sebab bahwa ini adalah pondasi ideologi yang tak bisa ditawar-tawar. Pemahaman ini kemudian dikembalikan dengan watak asli Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah yang memberikan otoritas penuh kepada ulama untuk mempertahankan ilmu dan hak atas menafsirkan agama dari kesembronoan anak muda. Sebuah bangunan pengetahuan yang dibenturkan dengan prinsip berfikir yang tawassuth (Moderat), tawazun (keseimbangan), dan ta’adul (keadilan) yang menjadi pembuka wacana inteletualitas ditubuh NU.

Satu kesimpulan awal yang diambil dari pemaparan diatas adalah para ulama merasa jijik dengan pembaharuan yang berefek pada pengutak-atikan ideologi yang diajarkan sebagai pondasi awal di pesantren berbasis NU. Jika dilakukan hal demikian, hancurlah pondasi yang selama ini dibangun, selain pengkultusan yang juga akan hilang begitu saja, sebuah penghormatan tinggi kepada kiai.

Berkembangnya dugaan bahwa ini terjadi karena tradisi Islam yang ada juga masih menimbulkan pertanyaan, karena Islam bukan lahir di Indonesia tetapi tersebar sampai ke negara ini. Maka, kemudian yang terjadi adalah bahwa Islam mengelaborasikan diri terhadap tradisi bangsa ini dengan meng-Islam-kan beberapa diantaranya. Persinggungan inipun menjadi sebuah masalah, bukan hanya karena belum berhasilnya menghilangkan rasa ketradisian yang asli, tetapi juga pada sebuah pertanyaan apakah sebuah tradisi Islam yang ada adalah tradisi asli dari bangsa Arab? atau jangan-jangan sudah terakulturasi dengan budaya Gujarat?. Hal ini menjadi sebuah pemikiran serius tersendiri dalam mencapai sebuah kebenaran.

Lebih lanjut, konstruksi pemikiran yang ada sejatinya haruslah dihapuskan jika memang mau membahas konsep Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah dengan lebih komprehensip. Kalau tidak, yang ada adalah stempelisasi. Pemurtadan terhadap ideologi yang ada, karena mengutak-atik yang dianggap tak akan bersalah dan tak dapat disalahkan. Pemahaman yang sejati tentang makna Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah dan perdebatannya memang diakui haruslah dimulai dari sebuah asumsi bahwa ia adalah sebuah Manhaj al-Fikr (metode berpikir), bukan madzab yang berkarakteristik sebagaimana di atas.

 
©  free template by Blogspot tutorial